Resensi Novel Rindu – Tere Liye

Posted: October 30, 2014 in Suka-suka
Tags: , , , ,

Resensi Novel Rindu – Tere Liye

Hal pertama yang ingin saya sampaikan tentang novel ini adalah, saya terkecoh! Meski sejak awal tahu bahwa karya Tere Liye yang diterbitkan oleh Republika di bulan Oktober 2014 adalah novel dengan genre religi, saya tetap tidak menyangka bahwa kata “Rindu” yang menjadi judul kali ini adalah Rindu yang satu itu.

Seperti novel-novel sebelumnya, Tere Liye mampu menyajikan cerita secara gamblang dan detil. Dengan sudut pandang dan pemilihan kalimat yang unik, yang jarang ter-ekspose dan terpikirkan oleh kebanyakan orang (termasuk saya pastinya).

Novel dengan tebal 544 halaman ini mengambil setting jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1938. Cerita bermula dari pelabuhan di kota Makassar, dimana akhirnya sebuah kapal uap besar yang sudah ditunggu bertahun-tahun akhirnya merapat disana. Kapal inilah yang akan menjadi saksi bisu semua perjalanan dan perjuangan penumpangnya selama 9 bulan ke depan, menuju tempat yang di-Rindu kan. Jika saat ini pesawat udara menjadi pilihan transportasi utama untuk perjalanan lintas pulau dan negara, maka kapal (uap) adalah satu-satunya pilihan realistis di jaman itu. Tentu dengan waktu tempuh yang berselisih cukup jauh.

Gurutta, Keluarga Daeng Andipati, dan Ambo Uleng adalah beberapa tokoh yang dominan diceritakan. Hampir serupa dengan tokoh Pak Tua di novel “Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah”, Gurutta dicirikan sebagai seorang yang sangat bijaksana. Tiap tutur katanya penuh nilai dan guna, bukan perkataan yang sia-sia. Daeng Andipati adalah seorang saudagar, yang membawa seluruh keluarga (istri dan dua anak perempuan) serta pembantunya dalam perjalanan ini. Anna dan Elsa, nama kedua anak perempuan tersebut. Sedang Ambo Uleng tokoh sentral terakhir, adalah seorang kelasi berdarah Bugis.

Ketika Anna mengalami kejadian yang mengerikan di Pasar Turi Surabaya, (sayangnya) saya dapat menebak alur cerita selanjutnya tentang keterlibatan Ambo Uleng. Entah karena saya mulai mengenal alur tulisan dari Tere Liye atau karena penulis sengaja memberi bocoran.

Karena latar cerita kebanyakan di kapal, ada beberapa kalimat yang agak membosankan karena diulang berkali-kali. Seperti tentang Kapten kapal yang selalu gagah di samping kemudi saat akan memulai perjalanan dari suatu kota. Kondisi kantin, masjid, lorong, dan bagian kapal lain yang tentu saja tidak mengalami perubahan sepanjang perjalanan.

Novel ini dibagi ke dalam lima puluh satu bagian. Saya pastikan, akan selalu ada pengetahuan baru yang dapat kita petik dari tiap bab yang sudah terbaca. Ketika kapal uap singgah di beberapa kota dalam perjalanan menuju tempat yang di-Rindu kan, penulis piawai menyelipkan pengetahuan sejarah kota tersebut. Tentang makanan, kejadian dan tempat unik disana.

Secara keseluruhan, novel ini sangat layak untuk dibaca. Cerita roman percintaan, perjuangan, keluarga, dan religi. Semua tercampur tapi tidak saling mengacaukan satu sama lain. Melainkan jadi satu kesatuan yang membuat buku ini semakin kaya rasa. Tiap tokoh mempunyai keunikan dan misteri terpendam. Yang pada akhirnya terurai dengan sendirinya, seiring dengan perjalanan kapal. Akhir kata, selamat berburu Rindu di toko-toko buku terdekat😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s