#Nama di Belakang Nama Suami

Posted: January 7, 2012 in Islam
Tags: , ,

Kultwit #Nama di Belakang Nama Suami oleh Ust @salimafillah
1. Betulkah menggandeng #nama suami di belakang nama isteri diharamkan secara mutlak?

2. Padahal ianya adalah ‘URF dalam identifikasi di negeri ini; dan betapa banyak para Masyaikh kitapun memakainya. #Nama

3. Kita tak bisa melupakan #Nama-nama mulia seperti; Nyai Walidah Ahmad Dahlan, Nyai Solikhah Wahid Hasyim, Nyai Nafisah Sahal.

4. Tentu saja; sesuatu tak serta merta jadi halal hanya karena orang besar melakukannya. Jadi mari kita telisik soal #nama ini.

5. Dalam Islam; identifikasi terhadap seseorang luas & longgar. Bisa melalui hak Wala’, mis: ‘Ikrimah MAULA ibn ‘Abbas. #Nama

6. ..pekerjaan –mis: al-Ghazzali (tukang tenun) -dengan ciri–seperti al-A’raj (si pincang), kuniyah-mis: Abu Muhammad.. #Nama

7. ..dengan asal kota; Al Halabi, asal propinsi; Al Khurasani, bahkan juga dengan #Nama Ibu; Ibn Sumayyah (‘Ammar ibn Yasir).

8. Identifikasi #nama perempuan dengan suaminya diperkenalkan Al Quran melalui wanita tak baik (Imraatu Nuh, Imraatu Luth)..

9. ..juga wanita yang baik (Imraatu Fir’aun). Ini melengkapi Maryam binti ‘Imran yang diidentifikasi dengan #nama Ayahnya.

10. Adakah contoh di zaman Nabi SAW penggunaan #nama suami untuk identifikasi wanita? ADA. Al Bukhari & Muslim meriwayatkan..

11. ..berkata Abu Sa’id Al Khudzri; “Telah datang Zainab ISTERI Ibnu Mas’ud kepada RasuliLlah untuk bertemu beliau.. #Nama

12. ..maka beliau bertanya, “Zainab siapa?” Lalu dijawablah; “Zainab ISTERI Ibnu Mas’ud.” Ujar beliau, “Persilakan dia!” #Nama

13. Memang telah nyata dalil yang melarang memanggil anak dengan mengidentifikasinya yakni menasabkan kepada selain Ayah. #Nama

14. “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka.” (QS. Al-Ahzab [33] : 5) #Nama

15. Pemahaman terhadap ayat ini; haram memanggil Zaid IBN Muhammad, sebab Ayahnya jelas Haritsah. Maka Zaid IBN Haritsah. #Nama

16. Para ‘ulama menjelaskan; terlarangnya penisbatan ini sebab berkaitan dengan konsekuensi hukum; waris, mahram, dll. #Nama

17. Di sisi ini; apakah penyebutan #Nama suami di belakang nama wanita seperti ‘URF kita berkonsekuensi hukum seperti dimaksud?

18. Lebih jauh; bukankah kita tidak memakai BINTI tuk menggandeng #Nama isteri dengan suaminya; sedang inilah yang bermasalah?

19. Nah; letak kemusykilan terjadi memang di banyak negeri yang berkebiasaan menggandeng #Nama anak & ayah tanpa BIN & BINTI.

20. Misalnya Mesir & beberapa negeri Arab lain; #Nama Halimah binti Rasyid dalam dokumen resmipun hanya ditulis Halimah Rasyid.

21. Jika ybs menikah dengan Ibrahim; maka memakai #nama Halimah Ibrahim jadi BERMASALAH karena dikira ada BINTI di antaranya.

22. Adapun menyebutnya Halimah Rasyid Ibrahim dimungkinkan karena bisa dimaknai Halimah BINTI Rasyid ZAUJATU Ibrahim. #Nama

23. Maka fatwa ‘Ulama di negeri-negeri itu cenderung mengharamkan #Nama 2 kata jika Nama isteri digandeng langsung Nama suami.

24. Apakah kebiasaaan demikian beserta konsekuensi hukumnya berlaku di negeri ini? Tidak. Kondisi & suasananya berbeda. #Nama

25. Kita di Indonesia menambahkan #Nama suami di belakang isteri bukan dalam rangka menafikan hubungan nasab dengan ayahnya.

26. Kita menggunakannya sekedar sebagai identifikasi; sebagaimana Nabi bertanya “Zainab yang mana?” dalam hadits di awal. #Nama

27. Ianya bahkan bermanfaat dalam pergaulan untuk menegaskan status seorang wanita agar lebih dikenal & tidak diganggu. #Nama

28. Ada nan bertanya, “Bukankah menggandeng #Nama dengan suami juga menjadi kebiasaan orang kafir?” Imam Ibn Nujaim Al Hanafi..

29. ..dalam Al Bahrur Ra’iq menjelaskan; “Penyerupaan terhadap orang kafir tidaklah diharamkan secara mutlak. Yang..” #Nama

30. ..diharamkan adalah menyerupai tindakan yang tercela & atau dengan maksud mengikuti mereka karena alasan yang batil.” #Nama

31. Akhi yang ‘Alim @mamoadi mengingatkan saya tentang kaidah “Al ‘Adah Muhakkamah; tradisi bisa menjadi hukum.” #Nama

32. Demikianlah; Islam tak hendak mencerabut para Muslim dari tradisinya selama tidak bertentangan dengan Nash Syar’i. #Nama

33. Sepenuh ta’zhim kepada @halalcorner yang telah membukakan pintu ilmu terkait gandengan #Nama ini. Ta’zhim kami pula pada pendapat itu.

34. Yang kami sampaikan bukan fatwa, hanya uraian kecil dalam menunjukkan bahwa kadang hukum berubah; mengingat tempat & zaman.

35. Sebab ‘illat (dasar tegaknya hukum, ~bukan hikmah: manfaat yang didapat darinya) kadang bersenyawa dengan zaman & tempat.

36. Sungguh sangat mulia & terhormat di mata kami, para saudari yang mengamalkan pendapat nan disampaikan Gurunda kami @halalcorner . #Nama

37. Mereka yang memilih kehati-hatian, insyaaLlah lebih aman & selamat; terimalah doa pemuliaan kami. Tapi tentu saja.. #Nama @halalcorner

38. ..soal menghalalkan & mengharamkan jauh lebih berat tanggungjawabnya daripada sekedar beramal jika telah memiliki hujjah. @halalcorner

39. Itu sebabnya, walau berpeluh sebab sedikitnya ilmu & sempitnya pemahaman; kami hadirkan ulasan sebagai pelengkap Gurunda @halalcorner .

40. Tertatih kami sampaikan ini; & telah banyak yang memberi koreksi berharga, termasuk Gurunda kami nan berilmu @ahmadabr .

41. Kami sampaikan jzkmLlh khyrn kepada semua; penuh syukur uraian yang kami pilihkan sedikit banyak telah mencakup keberatan.

42. Yang diperselisihkan bukan soal ‘Larangan Menasabkan pada Selain Ayah’. Itu jelas haram. Yang diperselisihkan adalah: … @halalcorner

43. ‘Apakah memakai #Nama suami di belakang Nama isteri termasuk kategori “Menasabkan”?’ Di sinilah Salim & Gurunda @halalcorner berbeda.

44. Maka tiada beda di antara kami dalam menghormati Nash, QS Al Ahzab [33] ayat 5 tersebut, alhamduliLlah. Hanya Kategorisasi. @halalcorner

45. Maafkan Shalih(in+at) atas panjang lebarnya pembahasan, sebab keterbatasan ilmu yang ada pada Salim memaksa demikian. #Nama @halalcorner

46. Kami akhiri dengan memohon ampun & rahmat Allah, mengemis bimbinganNya senantiasa, serta syukur kami pada @halalcorner & Shalih(in+at:)

47. Oh iya; ada hadits; ?? ?????? ??? ??? ???? ????? ???? ???? ????????? ? ????? ?????? seperti disebut Gurunda @ahmadabr & @halalcorner .

48. Atas hadits tsb perbedaan kami juga bukan pd Larangan Menasabkan pada Selain Ayah. Itu sepakat. Sekali lagi: KATEGORISASI;) @halalcorne

49. Sebenarnya ada nan juga bermasalah di negeri kita; isteri memanggil suami dengan “Abi!”, & sebaliknya “Ummi!” Berat ini! ;D @halalcorner

50. “Abi”, artinya “AyahKU!”, ini nanti akan masuk juga dalam pembahasan KATEGORI, “Termasuk menasabkan diri atau tidak?”

51. Secara bahasa jelas salah; isteri memanggil suami dengan “Abi! Ayahku!”, tapi bukankah ia ditujukan tuk membahasakan anak?

52. Melihat perbedaan Salim & @halalcorner dalam Kategorisasi soal #Nama tadi; Shalih(in+at) bisa menebak pendapat masing-masing kami kan?:)

53. Tetapi sungguh memang dianjurkan memakai panggilan yang aman. Orang Arab memakai kuniyah; “Ya Aba Fulan! Ya Umma Fulan!” @halalcorner

54. Orang Jawa pakai “Pak’e Fulan & Buk’e Fulan”; saya sering dipanggil “Pak’e Hilma” di keluarga mertua meski di rumah “Abah”.

55. Nah; selama ini kami pilih-pilih kondisi; Kalau sedang mengajari anak, ya ajarilah. Di luar itu, kami setia “Yayank Cinta!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s