Welcome!

Posted: October 6, 2011 in Uncategorized

Menulislah meski terasa berat. Menulislah hingga terasa ringan. Menulislah dengan senang. Menulislah sampai menjadi kebutuhan..

Advertisements

Secara sederhana, infused water adalah air dalam kemasan yang diberi potongan buah tertentu. Biasanya disimpan terlebih dahulu di dalam lemari es selama semalam penuh agar sari buah tercampur dalam air tersebut.

Buah yang dipilih macam-macam. Bisa lemon, kiwi, nanas, atau buah lain yang memiliki kandungan air cukup banyak. Saat ini banyak artikel dan asumsi yang mengatakan bahwa infused water ini sarat manfaat bagi tubuh kita, tapi sepengetahuan saya belum ada penelitian yang cukup kredibel untuk membuktikannya secara ilmiah.

Saya pribadi menyukai infused water karena ia adalah air putih yang tidak hambar, ada variasi rasa di dalamnya meskipun tidak akan sama persis seperti saat kita memakan buahnya secara langsung. Setidak-tidaknya, saya dapat mengurangi konsumsi minuman kemasan yang biasanya saya beli di minimarket. Sudah jadi rahasia umum bahwa minuman kemasan yang dijual di minimarket kerap menggunakan zat pewarna dan pemanis buatan.

Jadi saat istri saya membuat infused water yang sebagian dijual di kantin kantornya, saya pun selalu minta bagian, hehe.. Ya, istri saya menerima pesanan dan menjual infused water serta beberapa makanan dan minuman lain yang cukup sehat jika dibandingkan dengan “jajanan” yang ada di luaran. Contohnya salad buah dan smoothies .

Proses pembuatan infused water ini cukup mudah. Bahannya hanya air putih, buah, dan keinginan yang kuat. Jika tidak ingin repot, para pembaca di area Surabaya dan sekitarnya bisa memesan langsung ke akun instagram https://www.instagram.com/boostmorning

Segitu dulu deh, sedang mencoba tidur lebih awal agar dapat bangun lebih pagi, dan semoga menjadi lebih positif dan produktif menjalani hari. Aamiin..

Jualan

Posted: March 13, 2018 in IT and Programming Stuff, Suka-suka

Sejak kecil saya tidak pernah bercita-cita menjadi saudagar atau pengusaha. Melainkan cita-cita yang serupa dengan kebanyakan anak kecil lainnya. Menjadi insinyur, tentara, dan guru. Entah mengapa pendidikan dini atau anak di Indonesia tidak terlalu tertarik untuk mengajarkan konsep wirausaha. Padahal dengan jumlah penduduk yang sebanyak ini, Indonesia adalah lahan yang sangat subur untuk tumbuh dan berkembangnya usaha kecil dan menengah.

Tidak ada yang salah dengan semua profesi yang dulu pernah menjadi cita-cita masa kecil saya. Namun seiring waktu saya memiliki hasrat untuk berwirausaha, membuka lapangan pekerjaan sendiri. Dan salah satu usaha yang dalam waktu dekat ingin saya kembangkan tidak jauh dari pekerjaan saya saat ini sebagai programmer. Hingga detik ini masih ada keinginan yang kian menguat untuk membuat sebuah produk perangkat lunak yang nantinya bisa dijual, dipakai, dan bermanfaat untuk banyak orang.

Hari ini insyaAllah saya akan mulai berdiskusi dengan salah satu kolega yang menurut saya memiliki visi yang sama dan kami akan mulai membuat konsep tentang produk yang akan dibuat. Produk ini sudah ada di pasaran, tapi kami yakin masih ada “kue” yang bisa kami ambil di sana. Sebagai target pribadi, saya berharap di pertengahan tahun ini produk tersebut sudah dapat dipasarkan.

Selalu ada langkah pertama untuk menaklukkan sebuah perjalanan panjang. Semoga hari ini menjadi awal yang baik dari perjalanan yang penuh berkah ke masa depan, aamiin..

Cinta ?!

Posted: February 14, 2018 in Suka-suka
Tags:

Saya tidak tahu sejak kapan mulai mengenal, beranjak suka, hingga akhirnya memutuskan untuk mencintai. Semuanya berjalan dengan alami, tidak (perlu) didukung dengan sederet data dan fakta. Ya, saya pecinta dan pendukung klub sepakbola Arsenal.

Mungkin di periode awal tahun 2000-an. Ketika di posisi belakang masih diisi oleh David Seaman, Martin Keown, dan Tony Adams. Dikomandoi Robert Pires dan Patrick Viera, serta dibantu oleh Roy Parlour dan Freddie Ljungberg. Posisi ujung tombak diisi oleh duo legenda, Thierry Henry dan Dennis Berkamp. Ough..sungguh pasukan yang sangat mengerikan untuk dihadapi lawan. Hingga pada puncaknya di tahun 2004, sang klub mendapatkan rekor yang akan sulit disamai oleh klub lain, mendapatkan julukan The Invincibles. Yang tidak terkalahkan selama satu musim penuh Liga Inggris!

Setelah periode emas itu, satu persatu punggawa Arsenal mulai berganti, baik karena pindah ke klub lain maupun gantung sepatu. Mulai berganti pula beberapa pemain pilarnya. Yang paling terkenal tentu saja Fabregas di lini tengah sebagai jendral, dan van Persie sebagai ujung tombak. Sayangnya prestasi Arsenal perlahan tapi pasti, makin meredup. Belum pernah lagi menempati posisi pertama (juara) di akhir musim. Bahkan beberapa kali harus terseok-seok untuk sekadar nangkring di posisi 4 besar.

Keadaan itu terus berlanjut hingga satu tahun ke belakang. Hanya piala FA yang menjadi pelipur lara di tengah kekeringan gelar. Alhamdulillah, musim ini mulai terjadi penyegaran. Terdapat beberapa pemain baru yang menurut saya cukup menjanjikan untuk mengembalikan kejayaan Arsenal. Diantaranya ada Mkhitaryan dan Aubameyang. Meskipun untuk mendapatkan pemain-pemain baru tersebut harus ditebus dengan cukup mahal, dengan dilegonya beberapa pemain Arsenal ke klub lain seperti Giroud, Walcott, dan Chamberlain.

Di dalam hati terkecil saya sebenarnya ada lagi yang butuh penyegaran, yaitu di sektor pelatih. Menurut saya era si opa Wenger sudah usai 🙂 . Taktik dan strategi Wenger sudah dapat dibaca dan diatasi oleh banyak pelatih lain. Sudah waktunya si opa beristirahat dan menyerahkan estafet komando Arsenal kepada pelatih lain.

Itulah sekilas awal per-cinta-an saya dengan Arsenal beserta kondisi terakhirnya yang seringkali menyesakkan dada. Tapi ya begitulah, mau kalah dan ada di posisi berapapun, tetap saja akan saya dukung. Tidak hanya rindu, menjadi pendukung Arsenal pun berat..

Kecewa

Posted: December 25, 2017 in Uncategorized

Saya ingin menulis tentang perasaan kecewa dan marah. Kecewa karena ada hal-hal atau orang-orang yang bertindak tidak semestinya menurut pemikiran dan prinsip yang kita pegang.

Misal, dari kecil kita diajarkan oleh orang tua dan lingkungan sekitar bahwa sisa makanan atau bungkusnya (sampah) sepatutnya dibuang di tempat sampah.

Tapi silakan lihat di sekeliling anda sekarang. Kalau saya, akan demikian mudah menemukan orang-orang yang dengan tanpa rasa bersalah membuang sampah di jalan, parit, sungai, dan tempat-tempat tak layak lainnya.

Saat melihat orang yang seperti itu, saya kadang kecewa dan marah. Kok bisa-bisanya beliau bertindak seperti itu. Padahal tempat sampah sangat mudah ditemukan. Giliran hujan, mampet, banjir, langsung mengeluh tiada habis. Berkoar-koar bahwa Pemerintah tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Bahwa dinas terkait nggak ada kerjanya. Sampai-sampai banjir masih terjadi.

Saya kadang sudah hampir menyerah dengan orang tipe seperti ini. Saya kadang sudah bergumam sendiri, “Terserah, sakkarepmu!”

Tapi tidak, saya tidak akan menyerah. Minimal saya tidak bertindak seperti beliau. Saya mampu melakukan yang seharusnya dilakukan. Dan saya siap menjadi contoh.

Jika saya makan pentol yang ada plastik pembungkusnya sambil jalan-jalan. Setelah habis dan misal tidak menemukan tempat sampah di sekitar situ, plastik itu akan saya kantongi. Hingga akhirnya menemukan tempat sampah berikutnya. Atau kemungkinan terburuk, plastik itu akan saya bawa sampai rumah.

Maaf, tulisan di atas sudah sudah ngelantur. Kalau membahas tentang sampah, jadinya agak menggebu-gebu, hehe..

Poin yang akan saya cermati bukan tentang sampah, tapi tentang episode kecewa. Episode saat ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan/impikan. Atau ada seseorang yang tindakan/ucapan nya melampaui batas wajar yang kita miliki. Seakan-akan kita hendak menghardik, “Ni orang sekolah gak sih? Gak diajarin tata krama sama keluarganya?” Yah, hal-hal sejenis itu, yang pada akhirnya membuat kita kecewa.

Kabar buruknya, hal itu akan terjadi sepanjang hidup kita. Ya, dengan sedih hati saya akan berkata jujur. Saya ulangi. Sepanjang hidup, kita akan senantiasa berpapasan dan beririsan dengan perasaan kecewa.

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya sederhana diucapkan, tidak untuk dilakukan. Sabar..

“Yaelah bro, kalau itu sih, nenek saya juga tau!!”

Iya bro, memang itu kunci satu-satunya. Saya pun sedang dan akan terus berusaha menerapkannya sepanjang hidup. Yang mau saya bagi di sini adalah, ada beberapa cara untuk melatih sifat sabar tersebut.

Salah satu caranya, berempati. Lihat dan rasakan dari sudut pandang orang yang membuat kita kecewa. Mungkin orang yang membuang sampah sembarangan itu memang dididik demikian sedari kecil. Dan tidak pernah ada yang menegur. Maka sebenarnya, orang tersebut layak kita kasihani. Dia tidak sadar telah berbuat sesuatu yang kurang baik.

Atau mungkin juga, kala itu dia sedang depresi berat. Sehingga tidak sadar membuang sampah sembarangan. Pikirannya kalut karena baru saja dipecat oleh bos. Maka apalagi yang bisa kita harapkan? Masih syukur dia gak bunuh diri/membunuh orang lain di depan kita, hehe..

“Ahh..ini klise bos!”

Iya bos, ini memang klise, sekaligus nyata. Saya pun masih mempraktekkannya hingga kini. Dan tidak mungkin sepenuhnya sempurna. Setidaknya, rasa kecewa dan jengkel itu jadi berkurang. Saya lebih fokus pada tindakan positif yang bisa saya lakukan. Ketimbang malah memberikan efek domino negatif pada orang lain yang sebenarnya sama sekali tidak tersangkut dengan masalah tadi. Misal ke istri atau keluarga di rumah.

Orang lain tidak pernah berbuat buruk. Perbuatan buruk adalah hasil dari reaksi kita sendiri, atas aksi orang lain. Yang sebenarnya bisa kita netralkan. Perbanyak sabar, perbanyak empati. Jangan lupa beri jeda waktu, saat kita ingin melampiaskan dan meledakkan sesuatu. Yang mungkin akan kita sesali di kemudian hari.

Itu yang saya lakukan ketika ada faktor eksternal yang membuat kecewa. Bagaimana jika kekecewaan itu timbul karena tindakan kita sendiri? InsyaAllah akan kita bahas pada tulisan yang berbeda.

Antri

Posted: November 8, 2017 in Uncategorized

Antri itu tentang berusaha, sekaligus pasrah. Tentang kepatuhan dan kesabaran.

Ngomongin antri di negeri tercinta Indonesia ini tidak akan pernah ada habisnya. Selalu saja ada cerita yang (harus diakui) kurang mengenakkan. Di minimarket, di depan konter check-in bandara, di warung nasi goreng, di mana-mana semua ada di sini.

Berapa hari yang lalu saya mengalami lagi entah untuk yang ke berapa kalinya. Tapi yang ini agak beda, ada lucunya. 

Ada satu ibu paruh baya yang menyerobot antrian saat di depan meja kasir minimarket. Seperti biasa, dia (pura-pura) tidak tau kalau saya sudah antri sebelum dia. Langsung aja badannya dipepetin ke meja kasir. Dengan memasang muka polos tanpa merasa bersalah sedikitpun. 

Kebetulan saat itu saya sedang berbaik hati, tidak ingin membuat gaduh. Kadang saya menegur langsung orang yang menyerobot antrian, tapi lebih sering saya senyumin aja.

Nah, si ibu itu (kita sebut ibu1) sempet meleng (beralih pandangan) ke arah lain selama beberapa detik. Entah apa yang menarik perhatiannya. Di saat itulah, ada ibu paruh baya kedua (ibu2) yang menyerobot antrian beliau. Ya, kalau kita urut, sekarang antriannya menjadu ibu2, ibu1, dan saya di urutan terakhir.

Si ibu1 rupanya tidak terima antriannya diserobot, saya sempat mendengar beliau bergumam, “Yah, diserobot.”

Saat itulah saya lontarkan senyuman terbaik ke ibu2. Dalam hati saya berkata, “Sakit ya bu, rasanya diserobot.” Hehe..

Ya begitulah. Semua orang ingin cepat selesai dengan semua urusannya. Apalagi yang berkaitan dengan antrian. Tapi tolong, hargai orang lain yang sudah mengantri duluan. Orang-orang tersebut juga sibuk dengan urusan lain. Ingin segera selesai dan keluar dari antrian. Kalau memang anda benar-benar terdesak karena alasan yang super duper genting, misal karena ada saudara yang kritis di Rumah Sakit, ya sampaikanlah baik-baik ke orang-orang yang akan anda lewati antriannya. Harus berani menyampaikan. Jangan asal nyerobot.

Urusan nyerobot antrian ini sudah cukup akut di Indonesia. Salah satu solusinya: memasukkan pelajaran mengantri di kurikulum taman kanak-kanak, sekolah dasar, kalau perlu sampai perkuliahan. Supaya mendarah daging. Sehingga akan hadir generasi baru yang merasa malu menyerobot antrian. Generasi baru yang menghargai proses. Aamiin..

Hari ini saya memutuskan berhenti menggunakan media sosial; facebook, instagram, twitter. Semuanya (untuk sementara) tidak saya hapus, hanya saya logout dan uninstall. Yang tersisa hanya sederet aplikasi chat.

Kenapa sih harus asosial seperti itu? Entah. Saya hanya ingin lebih fokus pada situasi dan lingkungan sekitar. Saya tidak ingin menjadikan hp, terutama media sosial sebagai pusat kehidupan.

Ahh terlalu lebay! Silakan jika anda berpandangan seperti itu. Ini hanya sesuatu yang saya rasakan sendiri. Mungkin berbeda dengan yang anda alami.

Tiap ada waktu luang, tangan dan mata ini secara otomatis langsung mencari hp. Kalau anda beda, anda layak dapat bintang, hehe..

Lantas, apa yang akan kamu lakukan sekarang di waktu senggangmu? Saya akan perbanyak menulis, tentang apapun. Jika sedang tidak ada ide, saya akan melakukan aktivitas lain. Pada intinya, saya tidak ingin menjadikan dunia maya sebagai pusat kehidupan. Saya tidak ingin terlalu terdistraksi oleh etalase kehidupan orang lain.

Mohon doanya semoga saya berhasil. 

Library versi terbaru di maven repo masih ada bug. Sebaiknya ambil dari versi sebelumnya langsung dari instalasi PDI. Saya sudah coba pakai versi 5.0.1

Library yang dibutuhkan:
kettle5-log4j-plugin-5.0.1-stable.jar
kettle-core-5.0.1-stable.jar
kettle-dbdialog-5.0.1-stable.jar
kettle-engine-5.0.1-stable.jar
kettle-jdbc-5.0.1-stable.jar
kettle-ui-swt-5.0.1-stable.jar

================================================
private void executeTransformation() throws KettleException{
/**
* Initialize the Kettle Enviornment
*/
KettleEnvironment.init();

/**
* Create a trans object to properly assign the ktr metadata.
*
* @filedb: The ktr file path to be executed.
*
*/
String file = “resources/fee.ktr”;
TransMeta metadata = new TransMeta(file);
Trans trans = new Trans(metadata);

// Execute the transformation
trans.execute(null);
trans.waitUntilFinished();

// checking for errors
if (trans.getErrors() > 0) {
System.out.println(“Error Executing Transformation”);
}
}

private void executeJob(){
String file=”resources/backup-excel.kjb”; //Job file path that needs to be executed
Repository repository=null; //Checking for repository

try {
KettleEnvironment.init();

JobMeta jobmeta=new JobMeta(file,repository);
Job job=new Job(repository, jobmeta);

job.start();
job.waitUntilFinished();

if(job.getErrors()>0){
System.out.println(“Error Executing Job”);
}

} catch (KettleException e) {
// TODO Auto-generated catch block
e.printStackTrace();
}
}

Fokus pada “menu” hari ini

Posted: December 10, 2014 in Suka-suka

Seringkali (terutama di awal hari atau minggu) saya merasa banyak hal yang harus dikerjakan untuk hari ini, besok, lusa, sepanjang minggu ini, dan seterusnya. Seakan tidak ada ruang untuk bernafas, melakukan aktivitas lain (terutama hobi). Perasaan ini akan menghantui sepanjang hari sehingga alih-alih mengerjakan pekerjaan hari ini dengan benar dan cepat, saya justru sering hanya termenung atau menjelajah internet dengan tanpa tujuan. Dan hasilnya bisa ditebak, di akhir hari tidak ada (atau sedikit) pekerjaan yang saya selesaikan.

Apa yang harus saya lakukan??

Ternyata mudah, salah satu tips untuk mengatasi hal ini adalah dengan fokus pada “menu” hari ini saja. Jangan hiraukan pekerjaan di keesokan hari. Esok hari akan datang dengan sendirinya. Dan insyaAllah kita akan dapat melaluinya, sebagaimana hari-hari sebelumnya. Perasaan ini dapat membuat hari kita menjadi lebih menyenangkan. Dapat membuat kita lebih menikmati pekerjaan hari ini. Dan biasanya berujung dengan hasil kerja yang lebih memuaskan di akhir hari.

Tapi bukankah kita harus merencanakan pekerjaan kita ke depan? Benar, tetap lakukan hal tersebut. Rencanakan pekerjaan anda sebagaimana apa yang sering anda lakukan. Tapi ketika daftar pekerjaan itu sudah ada, tariklah nafas sejenak dan lupakan pekerjaan anda untuk esok dan seterusnya. Fokus saja dengan apa yang sudah anda rencanakan untuk hari ini.

Demikian, sedikit catatan dari saya yang masih belajar menjalani hidup. Semoga hari ini menyenangkan dan penuh berkah untuk kita semua, aamiin.

http://forums.linuxmint.com/viewtopic.php?f=49&t=156620

Setelah membaca forum di atas, device android saya bisa langsung terdeteksi setelah melakukan langkah berikut ini:

  1. Install packages libmtp-runtime libmtp-common mtpfs
    sudo apt-get install libmtp-runtime libmtp-common mtpfs
  2. Plug Android via USB-cable to the computer

Environment:

  1. OS notebook Linux Mint 17 Cinnamon 64-bit
  2. OS ponsel Android 4.1.2
  3. Tipe ponsel Andromax U

Resensi Novel Rindu – Tere Liye

Hal pertama yang ingin saya sampaikan tentang novel ini adalah, saya terkecoh! Meski sejak awal tahu bahwa karya Tere Liye yang diterbitkan oleh Republika di bulan Oktober 2014 adalah novel dengan genre religi, saya tetap tidak menyangka bahwa kata “Rindu” yang menjadi judul kali ini adalah Rindu yang satu itu.

Seperti novel-novel sebelumnya, Tere Liye mampu menyajikan cerita secara gamblang dan detil. Dengan sudut pandang dan pemilihan kalimat yang unik, yang jarang ter-ekspose dan terpikirkan oleh kebanyakan orang (termasuk saya pastinya).

Novel dengan tebal 544 halaman ini mengambil setting jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1938. Cerita bermula dari pelabuhan di kota Makassar, dimana akhirnya sebuah kapal uap besar yang sudah ditunggu bertahun-tahun akhirnya merapat disana. Kapal inilah yang akan menjadi saksi bisu semua perjalanan dan perjuangan penumpangnya selama 9 bulan ke depan, menuju tempat yang di-Rindu kan. Jika saat ini pesawat udara menjadi pilihan transportasi utama untuk perjalanan lintas pulau dan negara, maka kapal (uap) adalah satu-satunya pilihan realistis di jaman itu. Tentu dengan waktu tempuh yang berselisih cukup jauh.

Gurutta, Keluarga Daeng Andipati, dan Ambo Uleng adalah beberapa tokoh yang dominan diceritakan. Hampir serupa dengan tokoh Pak Tua di novel “Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah”, Gurutta dicirikan sebagai seorang yang sangat bijaksana. Tiap tutur katanya penuh nilai dan guna, bukan perkataan yang sia-sia. Daeng Andipati adalah seorang saudagar, yang membawa seluruh keluarga (istri dan dua anak perempuan) serta pembantunya dalam perjalanan ini. Anna dan Elsa, nama kedua anak perempuan tersebut. Sedang Ambo Uleng tokoh sentral terakhir, adalah seorang kelasi berdarah Bugis.

Ketika Anna mengalami kejadian yang mengerikan di Pasar Turi Surabaya, (sayangnya) saya dapat menebak alur cerita selanjutnya tentang keterlibatan Ambo Uleng. Entah karena saya mulai mengenal alur tulisan dari Tere Liye atau karena penulis sengaja memberi bocoran.

Karena latar cerita kebanyakan di kapal, ada beberapa kalimat yang agak membosankan karena diulang berkali-kali. Seperti tentang Kapten kapal yang selalu gagah di samping kemudi saat akan memulai perjalanan dari suatu kota. Kondisi kantin, masjid, lorong, dan bagian kapal lain yang tentu saja tidak mengalami perubahan sepanjang perjalanan.

Novel ini dibagi ke dalam lima puluh satu bagian. Saya pastikan, akan selalu ada pengetahuan baru yang dapat kita petik dari tiap bab yang sudah terbaca. Ketika kapal uap singgah di beberapa kota dalam perjalanan menuju tempat yang di-Rindu kan, penulis piawai menyelipkan pengetahuan sejarah kota tersebut. Tentang makanan, kejadian dan tempat unik disana.

Secara keseluruhan, novel ini sangat layak untuk dibaca. Cerita roman percintaan, perjuangan, keluarga, dan religi. Semua tercampur tapi tidak saling mengacaukan satu sama lain. Melainkan jadi satu kesatuan yang membuat buku ini semakin kaya rasa. Tiap tokoh mempunyai keunikan dan misteri terpendam. Yang pada akhirnya terurai dengan sendirinya, seiring dengan perjalanan kapal. Akhir kata, selamat berburu Rindu di toko-toko buku terdekat 😉